Pukul 2 siang, saya tinggalkan euforia wisuda teman2 seangkatan. Kembali ke rumah, lalu packing pakaian dan perlengkapan lain untuk Sabtu-Minggu besok. Setelah dirasa tidak ada yang kurang, lalu saya pamitan sama orang rumah. Dengan menaiki bus ekonomi jurusan Jogja-Semarang, saya mulai meninggalkan rumah. Tujuan saya menyambangi kota Semarang kali ini adalah nonton konser Efek Rumah Kaca dan GIGI, lalu dirapel touring ke Jepara.
Jarang sekali 2 band favorit saya itu main dalam satu panggung. Saya dapat informasi itu sudah beberapa minggu sebelumnya, saat saya buka forum di Kaskus. Baru dekat dengan hari H, saya mulai ngajak Vbree, Hahn, dan Riska yang memang mereka tinggal di seputaran Semarang. Owwhh.. iya.. satu lagi, Mas Sienyo yang merupakan GIGI Kita sejati Semarang. Mas Sienyo adalah kawan seperjalanan saya ketika tracking ke Gunung Merapi setahun yang lalu.
Selama perjalanan saya keep in contact dengan mereka. Bus yang saya naiki berjalan labil. Kadang berjalan cepat, kadang melambat, bahkan kadang berhenti dengan rentan cukup lama. Ya.. maklum saja, saya naik bus ekonomi. Saya sedang rindu dengan suasana “ekonomi”. Dimana berbagai macam orang berada dalam satu balok bermesin ini, dan tak merasa canggung ngobrol atau sekedar basa basi untuk membunuh rasa bosan sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa Jogja-Semarang yang memakan waktu 4 jam terlewati sudah.
Vbree dan Hahn sudah berjanji mau jemput saya di terminal Banyumanik. Setiba di sana, mereka belum juga menampakkan diri. Saya tunggu mereka sembari ngobrol dengan beberapa mas2 penjaga konter pulsa. Sudah saya kirimkan pesan pendek pada Vbree, bahwa saya sudah sampai. Ahh.. dia hanya menyuruh saya bersabar. Setengah jam lebih saya menunggunya. Obrolan dengan mas2 konter pun sudah beralih, yang awalnya hanya tanya asal daerah hingga topik berubah jadi ngomongin kekalahan telak 7-1 Manchester United dari rival sekotanya Manchester City.
Yang saya tunggu2 akhirnya datang juga. Say hello sebentar, emm.. ini adalah kali pertama saya bertemu dengan Hahn. Selama ini kami hanya berteman di dunia maya. Lalu kami meluncur ke SMA 3 Semarang. Riska sudah menunggu di TKP.

Tiba di sana lalu saya kontak Riska. Dia sudah booking 3 tiket buat kami. Kami bertiga masuk ke tempat acara, setelah itu Riska entah pergi kemana, karena dia memang ngliput acara ini. Kami berada di depan panggung saat Komunal tampil. Itu kali pertama saya melihat band underground tersebut. Saya SMS Mas Sienyo kalo saya sudah sampai. Ahh… rupanya daya listrik yang tinggi cukup mengganggu sinyal HP. Beberapa kali sms yang saya kirim pending. Inilah salah satu penyebab saya gagal menemukan Mas Sienyo. Kami bertiga di sebelah kiri layar panggung, sedangkan dia di sebelah kanan. Kami gagal berjumpa lagi.. Hikss..

Setelah 3 lagu dari Komunal, band yang saya tunggu2 keluar juga. Cholil, Andrian, dan Akbar mulai membawakan “Di Udara”. Yang saya suka saat ERK manggung adalah mulai berkurangnya intensitas kimcil2 yang terlihat. Hahahaha… Karena edisi kimcil sudah tadi di awal2..
Tepatnya saya lupa berapa jumlah lagu yang dibawakan ERK saat itu. Yang saya ingat adalah Desember, Mosi Tidak Percaya, Cinta Melulu, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, “Jalang” adalah lagu pamungkasnya. Dengan gaya kalemnya, Cholil berhasil mengajak saya dan penggemar ERK lainnya untuk nyanyi bareng.. Cukup menawarkan kerinduan dan mengurangi penat.

Selanjutnya GIGI yang naik panggung. Lama sudah saya tidak melihat live perform mereka. Ternyata tidak berubah. Armand masih tetap enerjik, Bujana masih tetep kalem, Thomas masih tetep cool, Hendi selalu mantep gebukin snare drum. Lagu yang mereka bawakan mayoritas lagu2 baru. Semacam 11 Januari, Ya ya ya, Facebook, Cintailah Mereka, dan beberapa lagu lainnya. Saya maklumi, mereka tampil di depan anak2 jaman sekarang. Padahal saya lebih kangen dengan lagu2 lama mereka.
Acara malam itu ditutup dengan pesta kembang api. Kami langsung cabut buat isi perut. Selanjutnya saya masih harus memenuhi ajakan Vbree buat ikut ke Jepara. Ada acara temu pecinta motor CB di sana. Hahn mengantarkan kami sampai di jalan menuju Demak. Ahhh.. mata saya sudah tidak 100% ON. Ternyata saya masih bisa tidur dimana saja saya berada, termasuk di atas motor sekalipun. Hahahahaha..
Dari Semarang ke Jepara harus melewati Demak dan Kudus, kurang lebih memakan waktu 2 jam. Cukup kerap kami berpapasan dengan pecinta CB lainnya. Dengan ingatan yang lupa2 ingat, akhirnya kami tiba di Pantai Kartini, Jepara. Teman2 Vbree sebagian sudah pada tidur dan yang saya kenal hanya Indah. Lalu ngobrol2, ternyata tadi ada salah satu anak CB dari Semarang yang tabrakan, dan meninggal. Yaahh.. kembali saya temui fakta “MANUSIA YANG MATI DENGAN PERSEPSINYA SENDIRI”.

Pagi pun tiba, barulah saya bisa melihat wajah orang2 pecinta kuda besi ini dengan jelas. Hampir segala usia ada di sini. Bahkan anak2 sekalipun, tentu saja dengan orang tuanya. Ini adalah orang2 baru yang saya temui. Tentu saja dengan pengalaman baru. Saya belum pernah terjebak diantara orang2 baru dengan deru mesin yang tak pernah berhenti seperti ini. Saya jadi tahu macam2 karakter orang. Kaum hawa masih tetap menjadi minoritas di acara macam ini. Yang cukup menyita perhatian saya adalah, saya berkenalan dengan Mbak Yanti dan keluarga kecilnya. Bisa dibilang suaminya adalah leader dari CB Kaliwungu-Kendal, putranya, Sabil pun tak pernah ditinggal kemanapun mereka touring. Benar2 keluarga rock n roll.. yeaahh… \m/
Banyak topik yang kami bincangkan saat itu. Ternyata Mbak Yanti masih selayaknya ibu2 di manapun. Kewajiban sebagai ibu tak ia tinggalkan. Memandikan, memakaikan baju, menunggui ketika makan,.. betapa sayangnya ia pada Sabil. Saya masih bisa melihat bekas piercing-an di telinganya, tentu saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana dia ketika masih muda. Hehehehe…
Perempuan freak yang saya temui lagi adalah Indah. Saya kenal Indah ketika tracking ke Gunung Ungaran. Dia adalah teman SMA nya Vbree. Ternyata dia masih tetap dengan gaya ceplas ceplos seenak mulutnya. Tapi itulah yang saya suka dari dia. Emmm.. satu lagi.. dia adalah Street Hijaber. Dia adalah Street Hijaber dalam arti kata sebenarnya. Berjilbab dengan mengendarai motor CB, dan tak lupa dengan “mbleyer2” nya. Yaa… selalu ada wanita2 tangguh diantara hobi yang mayoritas pecintanya adalah pria…

Vbree berhasil menyesatkan saya. Namun membuat saya mengerti seperti inilah dinamika kehidupan pecinta kuda besi. Tidur nyaman tidak perlu di atas kasur yang empuk, di pinggir jalan berselimut jaket pun bisa. Mandi tak harus di bawah guyuran shower, di kamar mandi POM Bensin pun jadi. Makan tak harus dengan daging2an, tempe pun Oke. Semua itu tetap asik, selama kebersamaan dan toleransi masih dijunjung tinggi. Hidup itu sudah susah, jadi buat apa dibikin tambah susah. Bahkan yang “merasa tidak susah” pun jadi beralih ke “susah”. Hidup itu keras, seperti kerasnya jalanan beraspal. Kalo gak percaya, jedotin aja tu jidat di aspal..
Merasakan sari pati hidup yang sebenarnya… KAPAN MANING NEK ORA SAIKI..?
#Penghujung Oktober 2011, Jogja, Semarang, Jepara
Bersama orang2 gila