Feeds:
Posts
Comments

Jawaban Pertanyaan Mbokde Murni

Pada suatu siang yang biasa2 saja, Teman saya, mengirim link ke timeline FB saya. Link tersebut berisi sebuah video klip Ipang –Tak Akan Ada Gantinya-, dengan melampirkan sebuah pertanyaan… “Nek ono sek nyanyek’ke iki neng nduwur gunung reaksimu meh piye yu? :)

 

-

Jeggeerrrr….. ingatan saya langsung kembali ke kenangan beberapa tahun yang lalu. Kenangan bersama seseorang yang saat itu mati2an saya jaga hatinya.

Terus.. apa hubungannya sama lagunya Ipang…? Emm.. begini critanya. Suatu hari pernah saya buat sebuah status yang saya kutip dari lirik lagu itu, yaitu bantu aku pergi dari sepi yang kurasa menyakitkan..” Ya.. perasaan saya saat itu memang sedang tidak karuan.. Mungkin kalo anak muda jaman sekarang bilang, saya sedang GALAU. Saat itu saya di Jogja, dan dia di pulau seberang. Kabar dari dia pun tak setiap hari saya dapatkan. Suasana saat itu sesuai dengan lirik sebuah lagu “Long distance is killing me”.

Selang berapa jam setelah status itu saya buat, sebuah pesan pendek mendarat di HP. Pesan singkat yang saat itu berhasil membuat saya limbung.

 

“hapuslah kata2 itu, kan sudah aku..”

 

Wwoii… sadar Faa, itu kan jaman dulu… Ya itulah bagian dari kisah masa lalu saya. Yang menyadarkan saya bahwa BATAS ANTARA SETIA DAN GOBLOK ITU CUMA TIPIS. Toh sekarang dia lebih memilih “membantu” perempuan lain, yang saat ini sudah menjadi pendampingnya hingga ke pelaminan…. #paetttt

Oke.. kembali ke pertanyaan kawan saya yang tak kalah aneh dengan saya itu. Setelah saya translate ke Bahasa Indonesia adalah  “Kalo ada orang yang nyanyiin ini (lagu Ipang) di atas gunung bagaimana reaksimu? :)

Wuihh.. naik gunung sama pujaan hati aja uda jadi hal yang saya impi2kan. Apalagi ditambahi bonus macam begonoan. Saya jadi kepikiran. Kira2 apa yang akan saya perbuat ya? ….. #garuk2 tanah

Mungkinkah saya akan tersipu2 malu, lalu menutup wajah dengan kain sari, lalu saya akan menari sambil berlari2. Dan berharap sang lelaki itu mengejar saya selayaknya film2 India..? Oh.. saya rasa tidak.. ini kan setting tempatnya di gunung. Kalo kejar2an saya bisa masuk jurang. Emm.. reaksi tersebut terlalu berresiko… #Lupakan

Ataukah saya akan berkata..”Owww… So Sweet… “ lalu saya akan menciumnya, semacam sinetron2 di layar kaca saat prime time tiba..? Ah.. saya rasa tidak juga. Seenaknya main sosor. Iya kalo udah jadi kekasih.. kalo belum kan bakalan beda skenarionya…. Kesannya saya cewek gampangan…. Lagian saya juga malu kalo dilihat sama pendaki lain… #Lupakan (lagi)

Ataukah justru saya malah balik bertanya, “Kamu mau minta apa kok muji2 aku..?”   Duh.. kok kesannya saya jahat banget, suka Su’udzon sama orang. Udah cape2 naik gunung, digituin pula. Aduh… Maafin Lala, ibu peri… Itu tidak baik… #Lupakan (lagi)

Ah.. sudahlah.. saya sedang tidak ingin melanjutkan spekulasi. Kalaupun benar2 hal itu terjadi, biarlah nanti. Spontanisasi saja.. Semoga saya masih berpegang teguh kepada asas lagu “Jatuh cinta itu biasa saja” nya Efek Rumah Kaca… Lalu.. bagaimana reaksi kalian jika terjadi hal seperti itu? Sudah… saya mau tidur. Kali2 aja ketemu lewat mimpi…

 

Selamat Tidur…

 

 

Kandang Sapi, 21/02/2012 2:56 AM

Good Morning

Pagi, bersepeda, melihat lebih dekat dan temukan hal yang tak terduga.

 

 

 

 

 

 

 

#main2 dengan kamera poket Casio Z27

 

Request-an Sasha

 

Riquest-an Sasha dan Mas Cihuy-nya….

Teriring doa dari saya, (walaupun saya belum kenal Pak Luk dan Mbak Ari) semoga menjadi keluarga bahagia, hingga akhir hayat…  :)

 

 

#Semoga Sasha dan Mas Cihuy-nya segera menyusul.. :)

Aku (masih) Ingin Hidup

 

Bagi saya “Berani Hidup” itu lebih keren daripada “Berani Mati”. Saya lebih salut dengan manusia2 yang berani survive. Ya.. memang manusia tidak tahu kapan tiba waktu dipanggil-Nya. Tapi saya tidak ingin mati saat ini. Kalaupun mati, saya ingin mati dengan meninggalkan arti. Saya masih ingin hidup. Merasakan hidup yang sebenarnya.

 

Saya masih ingin bertemu dengan orang2 yang luar biasa.

Saya masih ingin merasakan sensasi berberpetualang.

Saya masih ingin berenang diantara terumbu karang.

Saya masih ingin mengarungi luasnya samudra.

Saya masih ingin mendaki gunung yang tinggi.

Saya masih ingin merasakan hangat mentari.

Saya masih ingin menyapa embun pagi.

Saya masih ingin melukis ciptaan-Nya.

Saya masih ingin berkarya.

Saya masih ingin  berbagi.

Saya masih ingin hidup.

Dengan saripatinya.

-

-

*Saya selalu ingat pesan dari bapak saya yang paling keren sedunia yaitu “Senajan urip kuwi susah, tapi ojo nyusahke”.

 

Saat Senja Karimunjawa

 

 

 

Camera : Fujica M1

Film: Kodak

ASA 200

Karimunjawa, Central Java

Nostalgila Kawan Lama

“Kapan jalan kaki bersama Tepok, Krisna, Johar?”………. +6287898XXXXXX

 

Tiba2 sebuah SMS dari nomor tidak dikenal masuk. Tapi saya kenal siapa pengirimnya, diantara 3 nama tersebut pastinya. Memori saya langsung kembali 5 tahun silam. Saat2 kami menggila bersama ketika masih berstatus pelajar. 4 tahun lebih setelah kelulusan kami tidak berjumpa.

Merekalah adalah kawan lama saya. Tepok, Krisna, dan Johar.  Padahal dulu kami tidak satu kelas. Disaat teman2 perempuan sibuk nyari rentetan pacar (sekolah saya lebih banyak cowonya), saya justru sibuk nyari teman menggila. Diantara yang berhasil saya temukan adalah 3 nama tersebut.

4 tahun lebih tidak bertemu, tentu saja banyak perubahan diantara kami. Fisik tentunya. Krisna udah gak terlalu kurus lagi, Tepok sekarang jadi kaya preman, Johar tambah tinggi besar, hanya saya yang tidak banyak berubah tingginya (saya sadar diri). Hahahaha..

Kesibukan masing2 membuat kami tidak pernah bertemu. Krisna kerja di pertambangan Palembang, Tepok di bengkel otomotif, Johar kuliah tehnik mesin, sedangkan saya kerja di konsultan merek. Tapi hari ini Tuhan mempertemukan kami kembali… :)

Flash back 5 tahun silam.. Awal kami kenal justru karena ketidaksengajaan. Peraturan sekolah kami tidak seperti sekolah menengah atas lainnya. Sekolah kami yang mewajibkan siswa-siswinya masuk pukul 06.45. Hal itulah yang bikin saya sering telat. Udah gitu, saya dulu kalo berangkat sekolah itu semaunya sendiri. Kadang2 jam 6.30 baru berangkat. Padahal perjalanan dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu 20-30 menit. Maka dari itu, berhasillah saya menjadi salah satu jajaran “SISWA-SISWI TELADAN TELATAN SMK NEGERI 2 YOGYAKARTA”.


Sanksi yang didapat siswa yang terlambat adalah tidak boleh masuk kelas pada 1-2 jam pelajaran pertama. Selama 2 jam pelajaran (1,5 jam normal) itu kami ditahan di perpustakaan. Lalu diberi hukuman. Kadang2 suruh bersihin halaman sekolah, kadang2 suruh ngarang pake Bahasa Inggris, lari keliling lapangan, hukuman diberikan tergantung guru BP yang piket.

Hal itulah yang melatarbelakangi perkenalan saya dengan Krisna dan Tepok. Saya kenal Johar karena dia kalo pulang sekolah sering bareng sama Krisna dan Tepok. Bisa dibilang hanya Johar orang yang paling “benar” diantara kami. Tentu saja, karena dulu dia ikut eksul Rohis (Kerohanian Islam), saya ikut Sispala, sedangkan Krisna dan Topik lebih suka nongkrong di samping sekolah sambil sebal sebul rokok, semau mereka sendiri. Yang jadi persamaan kami  adalah suka ngenet di warnet sekolah seenaknya (tapi tetep bayar lho..) Tapi sejujurnya kami adalah murid yang cerdas. Terbukti dengan nilai kelulusan kami yang memuaskan. Hahahaha..

Ada satu hal lagi yang sering kami lakukan bersama. Pada hari Sabtu, kami sering tidak langsung pulang. Kami jalan dari sekolahan (Jl AM Sangaji 47) hingga Malioboro, lalu nongkrong di Benteng Vredeburg. Dulu tempat ini tidak seramai sekarang, jadi kami bebas ngobrol. Kalo pas haus atau laper, kami sering patungan. Istilah kami adalah “Sewu2 dadi banyu”. Maklum.. kantong pelajar coyyy… Tanggung hanya jalan sampai situ, kami jalan lagi sampai Pulo Cemeti, Taman Sari. Di sini kami biasanya menyusuri lorong2 sambil teriak2 seenaknya. Di sini saya suka dikagetin sama mereka.. Sialaaann.. Mentang2 saya cewe sendiri. Sebagai finishnya adalah Pojok Beteng Kulon, tempat nunggu bus jurusan Jogja-Bantul.

 

Yaa.. itulah kegilaan2 yang sering kami lakukan dulu. Hari ini kami melakukannya lagi. Tidak dengan mengendarai motor. Benar2 jalan kaki. Sama seperti 5 tahun yang lalu. Berjalan bersama sambil bercanda. Kalo bukan karena indahnya kenangan, kami (mungkin) tidak ingin melakukan ini lagi.

 

apakah kabar kawan lamaku
masihkah seperti yang dulu
mari sini peluklah aku
lepaskan semua rindumu
banyak kisah yang terlewatkan
tanpa kehadiran dirimu
duduk sini dekat denganku
habiskan waktu bersamaku

sampai dimana jalanmu
masihkah mengejar mimpimu
jangan pernah lupakan aku
karena asik kumpulkan batumu

satu persatu tumpukan batumu
kan menjelma jadi rumahmu
yang suatu saat jadi pelabuhanmu
dan aku singgah jadi tamumu

mari mainkan lagu kesukaan kita
ceritakan cerita kesenangan kita

 

Kawan Lama….  Song By: Oppie Andaresta 

 

#Jogja, 28 Januari 2012.

Pukul 2 siang, saya tinggalkan euforia wisuda teman2 seangkatan. Kembali ke rumah, lalu packing pakaian dan perlengkapan lain untuk Sabtu-Minggu besok. Setelah dirasa tidak ada yang kurang, lalu saya pamitan sama orang rumah. Dengan menaiki bus ekonomi jurusan Jogja-Semarang, saya mulai meninggalkan rumah. Tujuan saya menyambangi kota Semarang kali ini adalah nonton konser Efek Rumah Kaca dan GIGI, lalu dirapel touring ke Jepara.

Jarang sekali 2 band favorit saya itu main dalam satu panggung. Saya dapat informasi itu sudah beberapa minggu sebelumnya, saat saya buka forum di Kaskus. Baru dekat dengan hari H, saya mulai ngajak Vbree, Hahn, dan Riska yang memang mereka tinggal di seputaran Semarang. Owwhh.. iya.. satu lagi, Mas Sienyo yang merupakan GIGI Kita sejati Semarang. Mas Sienyo adalah kawan seperjalanan saya ketika tracking ke Gunung Merapi setahun yang lalu.

Selama perjalanan saya keep in contact dengan mereka. Bus yang saya naiki berjalan labil. Kadang berjalan cepat, kadang melambat, bahkan kadang berhenti dengan rentan cukup lama. Ya.. maklum saja, saya naik bus ekonomi. Saya sedang rindu dengan suasana “ekonomi”. Dimana berbagai macam orang berada dalam satu balok bermesin ini, dan tak merasa canggung ngobrol atau sekedar basa basi untuk membunuh rasa bosan sepanjang perjalanan. Hingga tak terasa Jogja-Semarang yang memakan waktu 4 jam terlewati sudah.

Vbree dan Hahn sudah berjanji mau jemput saya di terminal Banyumanik. Setiba di sana, mereka belum juga menampakkan diri. Saya tunggu mereka sembari ngobrol dengan beberapa mas2 penjaga konter pulsa. Sudah saya kirimkan pesan pendek pada Vbree, bahwa saya sudah sampai. Ahh.. dia hanya menyuruh saya bersabar. Setengah jam lebih saya menunggunya. Obrolan dengan mas2 konter pun sudah beralih, yang awalnya hanya tanya asal daerah hingga topik berubah jadi ngomongin kekalahan telak 7-1 Manchester United dari rival sekotanya Manchester City.

Yang saya tunggu2 akhirnya datang juga. Say hello sebentar, emm..  ini adalah kali pertama saya bertemu dengan Hahn. Selama ini kami hanya berteman di dunia maya. Lalu kami meluncur ke SMA 3 Semarang. Riska sudah menunggu di TKP.

Tiba di sana lalu saya kontak Riska. Dia sudah booking 3 tiket buat kami. Kami bertiga masuk ke tempat acara, setelah itu Riska entah pergi kemana, karena dia memang ngliput acara ini. Kami berada di depan panggung saat Komunal tampil. Itu kali pertama saya melihat band underground tersebut. Saya SMS Mas Sienyo kalo saya sudah sampai. Ahh… rupanya daya listrik yang tinggi cukup mengganggu sinyal HP. Beberapa kali sms yang saya kirim pending. Inilah salah satu penyebab saya gagal menemukan Mas Sienyo. Kami bertiga di sebelah kiri layar panggung, sedangkan dia di sebelah kanan. Kami gagal berjumpa lagi.. Hikss..

Setelah 3 lagu dari Komunal, band yang saya tunggu2 keluar juga. Cholil, Andrian, dan Akbar mulai membawakan “Di Udara”. Yang saya suka saat ERK manggung adalah mulai berkurangnya intensitas kimcil2 yang terlihat. Hahahaha… Karena edisi kimcil sudah tadi di awal2.. :D Tepatnya saya lupa berapa jumlah lagu yang dibawakan ERK saat itu. Yang saya ingat adalah Desember, Mosi Tidak Percaya, Cinta Melulu, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, “Jalang” adalah lagu pamungkasnya. Dengan gaya kalemnya, Cholil berhasil mengajak saya dan penggemar ERK lainnya untuk nyanyi bareng.. Cukup menawarkan kerinduan dan mengurangi penat.

Selanjutnya GIGI yang naik panggung.  Lama sudah saya tidak melihat live perform mereka. Ternyata tidak berubah. Armand masih tetap enerjik, Bujana masih tetep kalem, Thomas masih tetep cool, Hendi selalu mantep gebukin snare drum. Lagu yang  mereka bawakan mayoritas lagu2 baru. Semacam 11 Januari, Ya ya ya, Facebook, Cintailah Mereka, dan beberapa lagu lainnya. Saya maklumi, mereka tampil di depan anak2 jaman sekarang. Padahal saya lebih kangen dengan lagu2 lama mereka.

Acara malam itu ditutup dengan pesta kembang api. Kami langsung cabut buat isi perut. Selanjutnya saya masih harus memenuhi ajakan Vbree buat ikut ke Jepara. Ada acara temu pecinta motor CB di sana. Hahn mengantarkan kami sampai di jalan menuju Demak. Ahhh.. mata saya sudah tidak 100% ON. Ternyata saya masih bisa tidur dimana saja saya berada, termasuk di atas motor sekalipun. Hahahahaha..

Dari Semarang ke Jepara harus melewati Demak dan Kudus, kurang lebih memakan waktu 2 jam. Cukup kerap kami berpapasan dengan pecinta CB lainnya. Dengan ingatan yang lupa2 ingat, akhirnya kami tiba di Pantai Kartini, Jepara. Teman2 Vbree sebagian sudah pada tidur dan yang saya kenal hanya Indah. Lalu ngobrol2, ternyata tadi ada salah satu anak CB dari Semarang yang tabrakan, dan meninggal. Yaahh.. kembali saya temui fakta “MANUSIA YANG MATI DENGAN PERSEPSINYA SENDIRI”.

Pagi pun tiba, barulah saya bisa melihat wajah orang2 pecinta kuda besi ini dengan jelas.  Hampir segala usia ada di sini. Bahkan anak2 sekalipun, tentu saja dengan orang tuanya. Ini adalah orang2 baru yang saya temui. Tentu saja dengan pengalaman baru. Saya belum pernah terjebak diantara orang2 baru dengan deru mesin yang tak pernah berhenti seperti ini. Saya jadi tahu macam2 karakter orang. Kaum hawa masih tetap menjadi minoritas di acara macam ini. Yang cukup menyita perhatian saya adalah, saya berkenalan dengan Mbak Yanti dan keluarga kecilnya. Bisa dibilang suaminya adalah leader dari CB Kaliwungu-Kendal, putranya, Sabil pun tak pernah ditinggal kemanapun mereka touring. Benar2 keluarga rock n roll.. yeaahh… \m/

Banyak topik yang kami bincangkan saat itu. Ternyata Mbak Yanti masih selayaknya ibu2 di manapun. Kewajiban sebagai ibu tak ia tinggalkan. Memandikan, memakaikan baju, menunggui ketika makan,.. betapa sayangnya ia pada Sabil. Saya masih bisa melihat bekas piercing-an di telinganya, tentu saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana dia ketika masih muda. Hehehehe…

Perempuan freak yang saya temui lagi adalah Indah. Saya kenal Indah ketika tracking ke Gunung Ungaran. Dia adalah teman SMA nya Vbree. Ternyata dia masih tetap dengan gaya ceplas ceplos seenak mulutnya. Tapi itulah yang saya suka dari dia. Emmm.. satu lagi.. dia adalah Street Hijaber. Dia adalah Street Hijaber dalam arti kata sebenarnya. Berjilbab dengan mengendarai motor CB, dan tak lupa dengan “mbleyer2” nya. Yaa… selalu ada wanita2 tangguh diantara hobi yang mayoritas pecintanya adalah pria… :)

Vbree berhasil menyesatkan saya. Namun membuat saya mengerti seperti inilah dinamika kehidupan pecinta kuda besi. Tidur nyaman tidak perlu di atas kasur yang empuk, di pinggir jalan berselimut jaket pun bisa. Mandi tak harus di bawah guyuran shower, di kamar mandi POM Bensin pun jadi. Makan tak harus dengan daging2an, tempe pun Oke. Semua itu tetap asik, selama kebersamaan dan toleransi masih dijunjung tinggi. Hidup itu sudah susah, jadi buat apa dibikin tambah susah. Bahkan yang “merasa tidak susah” pun jadi beralih ke “susah”. Hidup itu keras, seperti kerasnya jalanan beraspal. Kalo gak percaya, jedotin aja tu jidat di aspal.. :D

 

Merasakan sari pati hidup yang sebenarnya… KAPAN MANING NEK ORA SAIKI..?

 

 

#Penghujung Oktober 2011, Jogja, Semarang, Jepara

Bersama orang2 gila

————-

 

*Tiba2 pusing di kepala berlipat2 rasanya…..

Ilmu Pengetahuan Alam

- diam-diam mengumpulkan kekuatan -

- seperti tak pernah dianggap ada, tapi tumbuh dengan penuh rasa syukur -

- semakin digenggam, semakin jatuh lalu menghilang -

- meneduhkan makhluk yang ada di bawahnya-

- walau keras tapi masih bisa mengalah -

Camera : Plastic Camera Olymbus

Film : Kodak ASA 200

Location : Merbabu, Gumuk Pasir Parangtritis, Patuk Gunung Kidul, Candi Cetho Karanganyar

Take Me Away

* POCKETFUL OF SUNSHINE -NATASHA BEDINGFIELD-

 

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 907 other followers