Feeds:
Posts
Comments

Pagi adalah ENERGI

 ***

“syukuri cerita yang telah pergi

benih cinta diwaktu lalu

berbuah kasih terlahir baru

semesta tak pernah diam

bisikan do’a di telinga alam

sambutlah indahnya esok hari

syukuri cerita yang telah pergi

warnai hari, lukis dunia, asah naluri

gapai bahagia, damaikan diri, damai semesta

lahirkan keajaiban dari tanganmu”

 ***

-Hiduplah Hari Ini, Dialog Dini Hari-

Bepergian itu paling menyenangkan saat hati pengen pergi ya tinggal pergi aja. Masalah ketemu monyet atau tupai atau ayam atau yang lain anggap aja itu bonus”.

 

Itulah update-an status FB Mbak Tutut beberapa hari yang lalu. Saya membenarkan 100% statement tersebut.

Memanfaatkan long weekend, saya pengen menjauh, opsi ke Dieng akhirnya yang bertengger. Beberapa teman yang saya ajak tidak bisa ikut. Sehari sebelumnya, saya sms Om Topik dan Om Ipin kalo saya mau Dieng. Mereka adalah kawan saya sekaligus guide pariwisata Dieng. Dengan niat, tekat, dengan sedikit nekat, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Dieng sendirian. Sebut saja solo backpacking.

Jumat sekitar pukul 11, saya berangkat. Dari Jogja saya naik bus jurusan Magelang dengan ongkos Rp 8.000,-. Sampai di terminal Magelang, ganti bus jurusan Wonosobo, ongkosnya Rp 13.000,-. Sepanjang perjalanan itu, pemutar lagu dari HP dengan lagu2 yang bertema bepergian setia menemani. Bayangan alam yang hijau, mentari, perbukitan, padang ilalang sudah mulai menari2 dalam imaji. Layaknya slide show dalam sebuah video. Hingga tak terasa saya sudah sampai di terminal Wonosobo, lalu ganti naik angkot. Hujan masih setia menemani perjalanan kala itu.

Sembari bertanya-tanya pada supir angkot, transport apa lagi yang harus saya naiki untuk saya sampai di Dieng. Akhirnya saya diturunkan di Bethesda. Ongkosnya Rp 2.000,- . Sebuah payung lipat yang sengaja saya bawa sangat menolong dari terpaan hujan yang kala itu tidak mengenal tenggang rasa derasnya. Meneduh di seberang jalan sambil bertanya kepada mas2 yang kala itu sedang menunggu hujan mereda. Dia memberitahu saya bus apa yang harus saya naiki. Ramah sekali mas2 ini. Dia bersedia menemani saya hingga bus datang. Bahkan jika hari itu tidak hujan, dia bersedia mengantar saya ke tempat biasa bus jurusan Dieng banyak dijumpai agar saya tidak kesorean. Padahal dia hendak berangkat kerja. Jas hujanpun sudah dia kenakan. Saya hanya bersyukur, Tuhan mempertemukan saya dengan orang2 baik. Dengan iringan terimakasih saya naik bus jurusan Dieng. Asshhh… saya lupa minta nomor HP nya.. bhakakakaka…

Hujan masih setia menemani, hawa dingin semakin merasuk. Memaksa saya untuk memakai jaket. Di dalam bus yang awalnya masih sepi, berganti semakin penuh sesak. Percakapan dengan logat2 ngapak menjadi backsound. Saya tiba2 tertidur.

Bangun2, orang di samping saya sudah berganti seorang ibu dan anaknya. Rupanya anak ibu itu masuk angin. “Tadi habis muntah, mbak”, kata beliau. Saya tawarkan sebungkus salonpas. Beliau mengambil selembar lalu menempelkan di perut si anak. P3K memang selalu saya bawa ketika saya bepergian. Berawal dari salonpas, percakapan mulai mencair. Hingga akhirnya mereka turun.

Cuaca mulai bersahabat. Hujan berganti langit membiru. Bukit2 dan ladang2 terasering yang cantik. Benar2 sore yang indah.

Hal yang paling tidak saya suka tiba2 muncul. Kebelet pipis di dalam bus itu sangat2 tidak enak. Saya coba berbagai cara untuk menahanya. Mulai dari ganti posisi duduk, salto, kayang, nendang… hahahahaa… #maaf saya berlebihan. Untung saja mas kondektur mulai memberikan kode agar saya bersiap2 turun. Thanks God. Mas Kondektur.. I luv u deh.. :P

Di pertigaan Dieng, saya turun. Lalu saya sms Om Ipin kalo saya sudah sampai. Sesosok pria bertubuh besar mulai menghampiri saya. Begitu saya berjumpa dengannya, hal pertama yang saya tanyakan adalah keberadaan kamar mandi. Yesss… lega juga.

Om Ipin mengajak saya ke rumahnya. Keluarganya menyambut hangat kedatangan saya. Tak lama, segelas teh panas sudah tersaji. Lalu Om Topik datang. Melarutlah kami dalam obrolan sederhana di depan tungku api dapur. Cukup mengurangi rasa dingin yang merasuk.

Ibunya Om Ipin mengajak kami makan malam. Menu kali itu adalah nasi, sayur kacang panjang, tempe mendoan dan ikan laut. Menu sederhana dengan suasana kekeluargaan itu terasa sangat nikmat. Apalagi makannya langsung di dapur, di depan tungku. Menurut saya restoran cepat saji dengan embel2 kebersamaan semacam ayam goreng Mbah Kumis, Huruf M, atau Si Genteng Merah itu kalah jauh.

Malamnya, kami bertiga jalan2 menikmati malam di Dieng. Saya tidak menyangka, ternyata malam itu pas bulan purnama. Bintangya banyak pula. Katanya Om Topik, kalau cuaca seperti ini, biasanya besok sunrisenya bagus. Dan saya cukup meng-amini saja. Sampai juga kami di rumahnya Om Topik. Mengobrol banyak hal tentang Dieng, di depan tungku, dengan segelas kopi susu. Hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Kembali ke rumah Om Ipin, istirahat. Berharap esok hari bertemu golden sunrise.

Paginya, pukul 4, saya sudah harus bangun. Tempat pertama yang akan saya kunjungi adalah gunung Sikunir. Guide pertama kali ini adalah Om Ipin. Jalan kaki menuju puncak Gunung Sikunir kira2 memakan waktu 45 menit. Kami sampai di puncak sebelum matahari terbit. Baru muncul semburat2 jingga. Benar kata Om Topik. Hari ini cuaca cerah. Golden sunrise yang muncul dari Gunung Ungaran mulai terlihat. Indah sekali. Saya tak ingin menyia2kan moment 3 menit ini. Cekrek.. Cekrek.. suara shutter kamera pocket dengan sesekali blitz.

Golden Sunrise

 

Ketika purnama tenggelam

 

Telaga dari Sikunir

 

Di puncak Sikunir ini, kami bisa melihat rangkaian gunung2 di Jawa Tengah. Cuaca cerah berpadu dengan pemandangan yang indah. Di timur mentari meninggi, di barat bulan purnama tenggelam. What a Great Moment.

Tempat wajib kunjung selanjutnya adalah Telaga Warna. Air telaga yang berwarna hijau tosca, dengan pohon2 di sekelilingnya. Warna air kadang2 bisa berubah. Tergantung pencahayaan. Di sini saya melihat turis yang berdansa di pinggir telaga. So sweet…

 

Telaga Warna

 

Puas keliling Telaga Warna, Om Ipin mengajak saya ke komplek candi Arjuna. Hanya butuh tak sampai 10 menit menaiki motor untuk sampai di sini. Di sini terdapat beberapa candi, yaitu Candi Arjuna, Srikandi, Sembadra dan Puntadewa. Sambil menikmati candi, kami sarapan nasi rames dan tempe mendoan yang telah kami beli sebelumnya. Di tempat ini juga sering diadakan upacara cukur rambut gimbal. Tradisi khas Dieng.

 

Komplek Candi Arjuna

 

Saya & Om Ipin

 

Mengunjungi Dieng tapi tak tahu sejarahnya itu kurang afdhol. Maka diajaklah saya ke Museum Dieng, Kailasa, Kab. Banjarnegara. Di sini terdapat arca2 yang ditemukan di sekitar Dieng. Ada juga ruang teater yang memutarkan video sejarah Dieng. Semua hal tentang Dieng ada di sini.

 

Museum Dieng

 

Ternyata Om Topik sudah menunggu di luar. Dia sudah berjanji akan mengajak saya ke suatu bukit andalannya. “Sebut saja bukit Teletubies”, katanya. Karena bentuknya mirip bukit yang ada di film Teletubies. Bergantilah guide saya saat itu. Sepanjang perjalanan, sesekali petani mencari kayu dan rumput kami temui. Setelah mendaki sekitar 45 menit, akhirnya sampai di Bukit Teletubies. Mendadak saya speecless. Sabana yang luas yang ditumbuhi ilalang tepat di depan mata saya. Ada dendelionnya juga. “Wis gek ngglundung2 sak puase”, kata Om Topik.

 

Betapa kecilnya saya

 

Saya & Om Topik

 

Benar2 Blusukan

 

Di tempat seluas ini hanya ada kami berdua. Seperti tempat pribadi. Teganya Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Poo meninggalkan saya. Padahal kalo ketemu uda mau saya ajak buat sparing tinju. Hahahaha. Tapi biarlah mereka tak ada. Saya jadi bebas guling2, tereak, salto, akrobat, senam, pokoknya terserah saya. Lalu saya diajak keliling2. Dan ini benar2 blusukan. Saya sempat terperosok di kubangan air. Untung saja dangkal. Benar2 otherside of Dieng. Great Dieng.

Turun dari Bukit Teletubies, kami menuju ke Kawah Sikidang. Bau asap belerang sangat menyengat. Mengharuskan saya menyumpal hidung. Inilah salah satu fenomena alam yang ada di Dieng. Tak berlama-lama saya di sini. Lalu kami kembali jalan kaki turun menuju warung mie ongklok dengan pemandangan bukit yang mulai tertutup kabit.. Josshhhh….

 

Kawah Sikidang

 

Sembari menunggu mie ongklok tersaji, saya membersihkan kaki dan tangan yang sudah seperti ketela habis dicabut dari tanah. Basah dan penuh lumpur. Selesai bersih2, Om Ipin sudah datang. Lalu kami bertiga menikmati mie ongklok. Mei Ongklok adalah makanan khas Wonosobo. Mie dengan bumbu kacang dan sate sapi sebagai kudapan. Nyak.. enyak enyak.

 

Mie Ongklok

 

Perut kenyang, hati senang. 3 botol carica siap saya bawa pulang. Sampai bertemu lagi Om Topik, Om Ipin. Saya akan kembali lagi ke Dieng, dan menagih janji kalian menyusuri Dieng di etape 2. Semoga semesta kembali mendukung. Terimakasih banyak… :)

 

Terkadang kita hanya perlu menjauh sesaat hanya untuk tahu maknanya pulang….

SOMEDAY #2

Home

 

*Words taken from: Life Traveler written by Windy Ariestanty

Bagaimana bisa menyesal..?

Dimana hanya bermodal spekulasi

Dimana teknologi tak banyak memberi arti

Dimana pohon jati, pinus berganti mahoni di kanan kiri

Dimana lalu lalang berisik mesin berganti sunyi

Dimana percakapan orang berganti hutan tak berpenghuni

Dimana panas terik berganti air yang bergemericik

Dimana gedung2 berganti gunung menjulang

Dimana abu2 berganti hijau, kuning, biru

Ahh.. bagaimana bisa menyesal jika terdampar di tempat seindah ini..?

 

 

 

Efek salah jalan di Boja hingga Temanggung. Terkadang tersesat itu nikmat. :)

Kamera                  : Fujica M1

Film                        : Lucky ASA 200

Lokasi                    : Temanggung, Jawa Tengah

Sam Poo Kong

Sam Poo Kong #2

Sam Poo Kong #3

Masjid Agung Jawa Tengah

Masji Agung Jawa Tengah

Greja Bleduk

Thousand Doors

Pabrik Rokok

Pohon2 jadi beton

ZZZZZZ

Kamera : Fujica M1

Film : Lucky Color ASA 200

Lokasi : Semarang, Jawa Tengah

Berhubung banyak (karena lebih dari 1 orang.. hahahahha) yang nanya tentang maen2 saya ke Karimunjawa, ya sudah.. saya posting ajaaahh..

 

Ini bukan trip kaya biasanya. Kenapa..? Soalnya saya kalo mau traveling biasanya backpacker-an alias nggembel. Berhubung ini piknik yang ngadain kantor dimana saya mengeluarkan ide-ide gila, jadi ya bisa dibilang lebih elite lah.. :D Kantor yang nanggung biayanya. Hehehehe

2 minggu menjelang Ramadhan, kami berhasil mengunjungi Karimunjawa. Karimunjawa terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Terdiri dari beberapa pulau yang terhampar luas di Laut Jawa.

Berangkat dari Jogja dengan menaiki mobil yang berisikan 5 orang dan 1 anak2, pukul 21.00 WIB kami meluncur. Rombongan kami, 6 orang yang lainnya, berangkat dari Semarang, dan janjian ketemu di Jepara.

Menjelang subuh, kami tiba di Jepara, kami bertemu dengan rombongan yang lain. Sambil mengantri tiket kapal Muria, kami sholat subuh, lalu sarapan pagi. Sekitar pukul 07.00 barulah kapal mulai dibuka. Mulailah kami berjubelan nyari tempat duduk yang PW alias Posisi Wuenaak.. hehehehe… harap maklum.. perjalanan laut yang bakalan kita tempuh sekitar 6-7 jam.. Sudah,.. sudah.. tidak usah dibayangkan…saya aja mbayanginya males.

 

 

1 jam pertama kami masih semangat buat narsis, 1 jam selanjutnya mulai nguap2 kena angin laut.. siap2 sumpelin kuping dengerin MP3, 1 jam selanjutnya…tidoooorrr….. Di tengah2 nyenyaknya tidur, tiba2 aja kebangun, liat jam.. baru setengah perjalanan.. Jiaahhhh…. saya mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Ternyata Mbak2 depan saya mulai mabok laut, diikuti salah satu rombongan kami, kemudian anaknya Pak Bos mulai nangis2..Ya maklum saja, rombongan kami termasuk rombongan yang luar biasa. Gimana enggak.. ada 2 ibu hamil dan 1 anak umur 5 tahun. Sepertinya terjadi mabok berantai, pemirsa. Kalo udah kaya gini critanya, saya mending gak usah ikut campur, maaf bukannya saya tidak setia terhadap pasangan.. #lhoh. Ini saya lakukan daripada saya ikut mabok juga.

Setelah melakukan perjalanan laut selama bertahun2 bersama Marcopolo yang pemberani dan tangguh, akhirnya saya bisa menjumpai DARATAN. Saya ulangi lagi.. DARATAN. Maaf, untuk yang perjalanan bertahun2 itu saya boong. Aslinya kami hanya menempuh waktu 6-7 jam. Hahahaha… Yes..akhirnya gapura yang bertuliskan “Selamat Datang di Karimunjawa” menyambut kedatangan kami. Turun, lalu nyari homestay, buat naroh barang2, soalnya kita berencana mau ngecamp. Kami sudah siap dengan alat tempur buat ngecamp, mulai dari tenda, alat masak, sampai amunisi.

Ternyata Karimunjawa lebih dari apa yang saya bayangkan. Saya kira di sini semacam pulau yang terisolasi. Ternyata saya salah besar. Infrastruktur (halah.. opo iki artine) di sini sudah lengkap. Listrik, sinyal HP, kantor polisi, hingga dukun bayi. Jadi kalo tiba2 nglairin disini bisa minta tolong pak polisi buat nganter ke dukun bayi. hahahaha.. :D

Saat sore hari kami manfaatin buat jalan2 sekitar pantai. Pokoknya gak saya sia2kan moment ini. Duduk di pinggir laut, menikmati sunset tepat di depan mata saya… What a wonderful day. Sayangnya ada yang kurang.. kurang ada kamu… Jiaaahh.. mulai ngayal.. Tak lupa saya abadikan melalui kamera analog buluk saya cap pasar klitikan, Fujica M1.

 

 

Malamnya jangan sia2kan lagi, pokoknya kalo di sini jangan cuman diem doank. Manfaatin buat nikmatin suasana yang ada. Kalo malemnya, di Alun-alun ada layar tancep yang muter film yang berseting di Karimunjawa. Saya masih ingat, yang jadi aktornya Nugie, tapi lupa judulnya.  Waktu di sini terasa begitu cepat. Saya lihat ternyata sudah jam 12 lebih, keasyikan cerita2 sama Om Jay, guide kami.

Pulau pertama yang kami kunjungi adalah Pulau Kecil. Dengan menaiki perahu yang telah kami sewa dengan tarif Rp 300.000,- dan ongkos guide Rp 75.000,- per hari, kami dipandu saat mengunjungi pulau2. Keliling pulau, terus snorkeling. Wuahhhh… ikannya bagus2. Terumbu karangnya juga cantik. Saya serasa nonton film kartun Sponge Bob. Tapi saya nyari Crapy peti gak nemu…

 

 

 

Lanjut ke tujuan ke dua kami yaitu Pulau Tengah. Di sini kami makan siang dengan bekal yang telah kami bawa. Mandi di pantai sepanjang hari. Bikin kulit saya makin eksotik.. (baca: item, bulukan)

Lalu kami ke Spot Gosong. Spot Gosong adalah daratan di tengah2 laut. Luasnya ya cuma beberapa meter. Ini keren sekali. Berasa di tengah2 laut. Ya emang di tengah2 laut sih. Hehehe..

 

 

Tujuan terakhir untuk hari pertama ini adalah penangkaran ikan hiu. Di sini kita bisa mandi bareng hiu. Gak usah pada parno duluan ya..Hiu di sini gak kaya di film Shark yang super hohor itu. Lebih tepatnya anakan hiu, atau balita hiu yang (mungkin) unyu2. Di sini pula akhirnya saya ketemu nemo. Finding nemo beneran ini mah.. :D Ah… siall.. di sini saya kena ubur2. Gatel.. panas pula.

Saking banyaknya pulau yang kami kunjungi, saya lupa nama2nya. Agendanya kalo di sini ya snorkeling, yang mau mancing di sini surganya, sun bathing. Snorkelingnya gak tanggung2, di tengah laut bookk…. Kalo uda di dalem laut berasa di dunia lain. Ajib pokoknya… Pantainya keren2.. Berasa di pelem The Beach..

 

 

Tapi yang paling berkesan bagi saya saat di Karimunjawa kali ini adalah sunsetnya. Ini sunset yang paling indah yang pernah saya lihat. Bener2 bulet kaya telor mata sapi..

4 hari 3 malam sudah kami berada di Karimunjawa. Soalnya kapal Muria seminggu hanya beroperasi 2 kali. Ahh… masi nggak rela ninggalin pulau ini. Oh.. iya.. hati2 sama calo. Kita musti pinter2 nawar juga. Jangan lupa, jangan buang sampah sembarangan, soalnya di sini uda mulai banyak sampah berserakan.
Yah… naek kapal 6 jam lagi dah.. Tidur aja lah… biar bangun2 nyampe Jepara lagi.. Saya bakalan kangen sama pasir putih, semilir angin, ikan2, terumbu karang,seafood dan sunset saat senja di Karimunjawa.. What a wonderful day.. Sampai jumpa Sponge Bob, pattrick, Mr Crap. Sampai jumpa Bikini Bottom…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,014 other followers