“Bepergian itu paling menyenangkan saat hati pengen pergi ya tinggal pergi aja. Masalah ketemu monyet atau tupai atau ayam atau yang lain anggap aja itu bonus”.
Itulah update-an status FB Mbak Tutut beberapa hari yang lalu. Saya membenarkan 100% statement tersebut.
Memanfaatkan long weekend, saya pengen menjauh, opsi ke Dieng akhirnya yang bertengger. Beberapa teman yang saya ajak tidak bisa ikut. Sehari sebelumnya, saya sms Om Topik dan Om Ipin kalo saya mau Dieng. Mereka adalah kawan saya sekaligus guide pariwisata Dieng. Dengan niat, tekat, dengan sedikit nekat, akhirnya saya memutuskan untuk berangkat ke Dieng sendirian. Sebut saja solo backpacking.
Jumat sekitar pukul 11, saya berangkat. Dari Jogja saya naik bus jurusan Magelang dengan ongkos Rp 8.000,-. Sampai di terminal Magelang, ganti bus jurusan Wonosobo, ongkosnya Rp 13.000,-. Sepanjang perjalanan itu, pemutar lagu dari HP dengan lagu2 yang bertema bepergian setia menemani. Bayangan alam yang hijau, mentari, perbukitan, padang ilalang sudah mulai menari2 dalam imaji. Layaknya slide show dalam sebuah video. Hingga tak terasa saya sudah sampai di terminal Wonosobo, lalu ganti naik angkot. Hujan masih setia menemani perjalanan kala itu.
Sembari bertanya-tanya pada supir angkot, transport apa lagi yang harus saya naiki untuk saya sampai di Dieng. Akhirnya saya diturunkan di Bethesda. Ongkosnya Rp 2.000,- . Sebuah payung lipat yang sengaja saya bawa sangat menolong dari terpaan hujan yang kala itu tidak mengenal tenggang rasa derasnya. Meneduh di seberang jalan sambil bertanya kepada mas2 yang kala itu sedang menunggu hujan mereda. Dia memberitahu saya bus apa yang harus saya naiki. Ramah sekali mas2 ini. Dia bersedia menemani saya hingga bus datang. Bahkan jika hari itu tidak hujan, dia bersedia mengantar saya ke tempat biasa bus jurusan Dieng banyak dijumpai agar saya tidak kesorean. Padahal dia hendak berangkat kerja. Jas hujanpun sudah dia kenakan. Saya hanya bersyukur, Tuhan mempertemukan saya dengan orang2 baik. Dengan iringan terimakasih saya naik bus jurusan Dieng. Asshhh… saya lupa minta nomor HP nya.. bhakakakaka…
Hujan masih setia menemani, hawa dingin semakin merasuk. Memaksa saya untuk memakai jaket. Di dalam bus yang awalnya masih sepi, berganti semakin penuh sesak. Percakapan dengan logat2 ngapak menjadi backsound. Saya tiba2 tertidur.
Bangun2, orang di samping saya sudah berganti seorang ibu dan anaknya. Rupanya anak ibu itu masuk angin. “Tadi habis muntah, mbak”, kata beliau. Saya tawarkan sebungkus salonpas. Beliau mengambil selembar lalu menempelkan di perut si anak. P3K memang selalu saya bawa ketika saya bepergian. Berawal dari salonpas, percakapan mulai mencair. Hingga akhirnya mereka turun.
Cuaca mulai bersahabat. Hujan berganti langit membiru. Bukit2 dan ladang2 terasering yang cantik. Benar2 sore yang indah.
Hal yang paling tidak saya suka tiba2 muncul. Kebelet pipis di dalam bus itu sangat2 tidak enak. Saya coba berbagai cara untuk menahanya. Mulai dari ganti posisi duduk, salto, kayang, nendang… hahahahaa… #maaf saya berlebihan. Untung saja mas kondektur mulai memberikan kode agar saya bersiap2 turun. Thanks God. Mas Kondektur.. I luv u deh..
Di pertigaan Dieng, saya turun. Lalu saya sms Om Ipin kalo saya sudah sampai. Sesosok pria bertubuh besar mulai menghampiri saya. Begitu saya berjumpa dengannya, hal pertama yang saya tanyakan adalah keberadaan kamar mandi. Yesss… lega juga.
Om Ipin mengajak saya ke rumahnya. Keluarganya menyambut hangat kedatangan saya. Tak lama, segelas teh panas sudah tersaji. Lalu Om Topik datang. Melarutlah kami dalam obrolan sederhana di depan tungku api dapur. Cukup mengurangi rasa dingin yang merasuk.
Ibunya Om Ipin mengajak kami makan malam. Menu kali itu adalah nasi, sayur kacang panjang, tempe mendoan dan ikan laut. Menu sederhana dengan suasana kekeluargaan itu terasa sangat nikmat. Apalagi makannya langsung di dapur, di depan tungku. Menurut saya restoran cepat saji dengan embel2 kebersamaan semacam ayam goreng Mbah Kumis, Huruf M, atau Si Genteng Merah itu kalah jauh.
Malamnya, kami bertiga jalan2 menikmati malam di Dieng. Saya tidak menyangka, ternyata malam itu pas bulan purnama. Bintangya banyak pula. Katanya Om Topik, kalau cuaca seperti ini, biasanya besok sunrisenya bagus. Dan saya cukup meng-amini saja. Sampai juga kami di rumahnya Om Topik. Mengobrol banyak hal tentang Dieng, di depan tungku, dengan segelas kopi susu. Hingga tak terasa jarum jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Kembali ke rumah Om Ipin, istirahat. Berharap esok hari bertemu golden sunrise.
Paginya, pukul 4, saya sudah harus bangun. Tempat pertama yang akan saya kunjungi adalah gunung Sikunir. Guide pertama kali ini adalah Om Ipin. Jalan kaki menuju puncak Gunung Sikunir kira2 memakan waktu 45 menit. Kami sampai di puncak sebelum matahari terbit. Baru muncul semburat2 jingga. Benar kata Om Topik. Hari ini cuaca cerah. Golden sunrise yang muncul dari Gunung Ungaran mulai terlihat. Indah sekali. Saya tak ingin menyia2kan moment 3 menit ini. Cekrek.. Cekrek.. suara shutter kamera pocket dengan sesekali blitz.

Golden Sunrise

Ketika purnama tenggelam

Telaga dari Sikunir
Di puncak Sikunir ini, kami bisa melihat rangkaian gunung2 di Jawa Tengah. Cuaca cerah berpadu dengan pemandangan yang indah. Di timur mentari meninggi, di barat bulan purnama tenggelam. What a Great Moment.
Tempat wajib kunjung selanjutnya adalah Telaga Warna. Air telaga yang berwarna hijau tosca, dengan pohon2 di sekelilingnya. Warna air kadang2 bisa berubah. Tergantung pencahayaan. Di sini saya melihat turis yang berdansa di pinggir telaga. So sweet…

Telaga Warna
Puas keliling Telaga Warna, Om Ipin mengajak saya ke komplek candi Arjuna. Hanya butuh tak sampai 10 menit menaiki motor untuk sampai di sini. Di sini terdapat beberapa candi, yaitu Candi Arjuna, Srikandi, Sembadra dan Puntadewa. Sambil menikmati candi, kami sarapan nasi rames dan tempe mendoan yang telah kami beli sebelumnya. Di tempat ini juga sering diadakan upacara cukur rambut gimbal. Tradisi khas Dieng.

Komplek Candi Arjuna

Saya & Om Ipin
Mengunjungi Dieng tapi tak tahu sejarahnya itu kurang afdhol. Maka diajaklah saya ke Museum Dieng, Kailasa, Kab. Banjarnegara. Di sini terdapat arca2 yang ditemukan di sekitar Dieng. Ada juga ruang teater yang memutarkan video sejarah Dieng. Semua hal tentang Dieng ada di sini.

Museum Dieng
Ternyata Om Topik sudah menunggu di luar. Dia sudah berjanji akan mengajak saya ke suatu bukit andalannya. “Sebut saja bukit Teletubies”, katanya. Karena bentuknya mirip bukit yang ada di film Teletubies. Bergantilah guide saya saat itu. Sepanjang perjalanan, sesekali petani mencari kayu dan rumput kami temui. Setelah mendaki sekitar 45 menit, akhirnya sampai di Bukit Teletubies. Mendadak saya speecless. Sabana yang luas yang ditumbuhi ilalang tepat di depan mata saya. Ada dendelionnya juga. “Wis gek ngglundung2 sak puase”, kata Om Topik.

Betapa kecilnya saya

Saya & Om Topik

Benar2 Blusukan
Di tempat seluas ini hanya ada kami berdua. Seperti tempat pribadi. Teganya Tinky Winky, Dipsy, Lala, dan Poo meninggalkan saya. Padahal kalo ketemu uda mau saya ajak buat sparing tinju. Hahahaha. Tapi biarlah mereka tak ada. Saya jadi bebas guling2, tereak, salto, akrobat, senam, pokoknya terserah saya. Lalu saya diajak keliling2. Dan ini benar2 blusukan. Saya sempat terperosok di kubangan air. Untung saja dangkal. Benar2 otherside of Dieng. Great Dieng.
Turun dari Bukit Teletubies, kami menuju ke Kawah Sikidang. Bau asap belerang sangat menyengat. Mengharuskan saya menyumpal hidung. Inilah salah satu fenomena alam yang ada di Dieng. Tak berlama-lama saya di sini. Lalu kami kembali jalan kaki turun menuju warung mie ongklok dengan pemandangan bukit yang mulai tertutup kabit.. Josshhhh….

Kawah Sikidang
Sembari menunggu mie ongklok tersaji, saya membersihkan kaki dan tangan yang sudah seperti ketela habis dicabut dari tanah. Basah dan penuh lumpur. Selesai bersih2, Om Ipin sudah datang. Lalu kami bertiga menikmati mie ongklok. Mei Ongklok adalah makanan khas Wonosobo. Mie dengan bumbu kacang dan sate sapi sebagai kudapan. Nyak.. enyak enyak.

Mie Ongklok
Perut kenyang, hati senang. 3 botol carica siap saya bawa pulang. Sampai bertemu lagi Om Topik, Om Ipin. Saya akan kembali lagi ke Dieng, dan menagih janji kalian menyusuri Dieng di etape 2. Semoga semesta kembali mendukung. Terimakasih banyak…
Terkadang kita hanya perlu menjauh sesaat hanya untuk tahu maknanya pulang….